Sunday, March 2, 2014

Hatsukoi / First Love

Hujan turun dengan derasnya pada saat itu dan membawa kenangan lamaku yang belum bisa aku lupakan atau bisa dikatakan kenangan cinta kita yang tak akan pernah aku lupakan.

Sesosok pria berkacamata, tinggi , berkulit putih, dengan badan yang ideal. Itu adalah kesan pertamaku ketika bertemu denganmu. Pria itulah yang mengenalkan aku apakah itu cinta. Aku sangat berterima kasih kepada temanku yang mengenalkan sekaligus membawa pria itu masuk ke dalam kehidupanku.

Awal tahun 2008 di bulan Januari itulah perkenalanku padanya…

“Hei michelle! Apa.. Kau tidak mau berkenalan dengan teman satu les ku?” Kata temanku mebuyarkan konsentrasiku saat aku sedang bermain game.

“Ha? Siapa?” balasku kepada temanku itu.

“Namanya Peter. Kamu kirimi pesan ke dia. Dia baik kok. Hehe”

“Hmm. Oke deh. Hitung-hitung teman saling kirim pesan baru!” Sahutku sambil langsung mengirimkan pesan singkat pada orang bernama Peter itu.

Tak kusangka Ia membalas pesanku dengan respon yang baik. Mulai dari sanalah kita saling menukarkan cerita tentang kehidupan kita.

Dan tibalah hari dimana aku akan bertemu dengannya di sebuah mall yang cukup terkenal di Surabaya. Itu adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku & baginya.

Tak terasa 1 tahun berlalu dan kita menjadi sedekat ini. Mungkin kita tak bisa meneruskan hubungan ini sebagai teman biasa. Mungkin perasaan ini akan membawa kita kedalam suatu hubungan lebih dari sekedar teman.

Harapan ku telah terwujud. Beberapa hari setelah itu, Dia menyatakan cintanya padaku dan aku menyambut cinta itu.

Tapi setelah itu, tak kusangka aku telah menganggap remeh cinta yang telah ia berikan padaku. Serasa 1 tahun itu tidak cukup bagiku untuk mengenalnya.

Aku masih ingat dimana ia menuliskan kata-kata “I ; U” menggunakkan darahnya.

Aku masih ingat dimana Ia selalu bangun jam 5 pagi untukku hanya untuk mengirimi diriku sebuah pesan berisi “Good Morning, Sayang”. Padahal aku tahu, Ia sangat kekurangan tidur karena jadwalnya yang begitu padat  di sebabkan oleh: Ia adalah penerus perusahaan keluarganya.

Aku masih ingat ditengah-tengah kursus & sekolahnya yang begitu padat, Ia akan selalu menyempatkan waktunya untuk menemani diriku.

Aku masih ingat dimana Ia membelai rambutku dengan lembutnya, memelukku dengan hangat sambil berkata “Aku sayang kamu” dengan nada yang tegas, tetapi mengandung kelembutan dan cinta.

Aku masih ingat dia selalu menghiburku disaat aku dalam kondisi terpuruk.

Aku masih ingat dia menerimaku apa adanya. Padahal, Ia anak orang kaya dan aku hanyalah anak orang menengah ke bawah.

Aku masih ingat dia selalu bersikap dewasa pada diriku yang begitu kekanak-kanakan.

Ia yang selalu baik padaku, tapi aku tak merasakan kebaikan itu. Seakan-akan aku adalah makhluk yang jahat. Aku selalu membeda-bedakannya dengan lelaki di luar sana tanpa aku tahu perjuangannya untuk menjadi yang terbaik untuk diriku.

Aku merasa begitu kurang pada semua yang telah Ia lakukan padaku. Sehingga aku memutuskan hubungan kami dan berpindah hati pada lelaki lain. 
Dan begitu jahatnya aku, Aku memamerkan pria baruku kepadanya tanpa mengetahui betapa sakit hatinya ketika aku melakukan itu pada dirinya.

Tetapi…

Ia tetap bersikap baik pada diriku…

Mungkin ini karma buatku karena telah melakukan hal itu padanya. Kekasih baru yang kupuja-puja itu memutuskan hubungannya denganku dan berpindah hati.

Dan di saat bagian terpurukku itu, Peter bersedia menjadi tempat curhatku walau hatinya telah aku sakiti. Di dalam hatiku,  aku merasa betapa bodohnya diriku telah meninggalkan pria baik ini demi pria busuk itu. Peter membuka tangannya kembali kepadaku dan berkata “Aku masih sayang kamu”.  Tentu saja aku akan menerima uluran tangannya itu, tetapi betapa bodohnya diriku aku membuang kebaikkan Peter.

Tapi aku tak tahu kenapa Ia masih saja mau kepadaku yang menyakiti hatinya itu sedemikian rupa dan aku tetap melakukan kesalahan itu untyk ke sekian kalinya…

Dan tibalah saat di mana kesabaran manusia telah sampai pada batasnya.

Peter menjauhkan dirinya dari padaku. Tapi aku belum sadar akan hal itu. Setelah sekian lama aku baru sadar bahwa Peter lah yang terbaik bagi diriku.

Dan..

..semuanya terlambat.

Ia telah membenci diriku karena begitu jahat perlakuan ku padanya.
Sebegitunya Ia membenciku sampai saat aku menelponnya, hanya dengan mendengar suaraku, Ia langsung memutuskan telefon tersebut.

Aku selalu megirim pesan padanya, tapi Ia tak mau membalas pesanku.

Mungkin…

Aku berharap takdir menyatukan kita kembali. Aku di pertemukannya di sebuah mall dengannya aku begitu senang melihat wajahnya. Tapi, Ia mengetahui adanya diriku disana. Wajah yang sebelumnya tertawa menjadi penuh dengan kebencian saat melihat wajahku.

Tetapi aku membuang harga diriku dan menghampirinya untuk meminta maaf
“Siapa kamu? Aku tak mengenalmu!” dengan dinginnya tanpa mau melihat mukaku.

Aku tak kecewa karena ini pantas buatku.

Dan tiba dimana hari Ia berulang tahun, aku ingin memberikan hadiah kepada dirinya. Pada saat itu hari itu begitu cerah. Aku menunggu untuk memberikannya hadiah yang telah aku bungkus ini. Aku menunggu di depan rumahnya, tanpa merasa hujan itu turun dengan derasnya, tapi aku tetap menunggunya…

Tapi di luar dugaanku..

Ia membuang hadiah yang sudah aku buat dengan susah payah di depan mataku.

Ya aku tau semua yang telah aku lakukan tak akan pernah menghapus kesakitan yang Ia rasakan pada saat bersamaku . .

Tapi …

Aku tetap berharap bisa bersamamu walau itu hanya sebatas teman . .

Mungkin juga bila temanku tak mengenalkan dirimu padaku semua kesakitan di antara cinta pertama kita tak akan pernah terjadi ..

Dan aku tidak akan belajar bagaimana rasa sakit ketika di sakiti, rasa sayang yang selalu kau berikan padaku, perlakukan baikmu, uluran tanganmu yang masih mau menerimaku walau aku telah menyakitimu.

Namun, sekarang aku telah menemukan sesosok pria yang bisa menggantikan dirimu. Tetapi tetap, dirimu lah yang masih mendapatkan posisi pertama di hatiku.


Terimakasih atas segalanya..