Hujan
turun dengan derasnya pada saat itu dan membawa kenangan lamaku yang belum bisa
aku lupakan atau bisa dikatakan kenangan cinta kita yang tak akan pernah aku
lupakan.
Sesosok
pria berkacamata, tinggi , berkulit putih, dengan badan yang ideal. Itu adalah
kesan pertamaku ketika bertemu denganmu. Pria itulah yang mengenalkan aku
apakah itu cinta. Aku sangat berterima kasih kepada temanku yang mengenalkan
sekaligus membawa pria itu masuk ke dalam kehidupanku.
Awal
tahun 2008 di bulan Januari itulah perkenalanku padanya…
“Hei
michelle! Apa.. Kau tidak mau berkenalan dengan teman satu les ku?” Kata
temanku mebuyarkan konsentrasiku saat aku sedang bermain game.
“Ha?
Siapa?” balasku kepada temanku itu.
“Namanya
Peter. Kamu kirimi pesan ke dia. Dia baik kok. Hehe”
“Hmm.
Oke deh. Hitung-hitung teman saling kirim pesan baru!” Sahutku sambil langsung
mengirimkan pesan singkat pada orang bernama Peter itu.
Tak
kusangka Ia membalas pesanku dengan respon yang baik. Mulai dari sanalah kita
saling menukarkan cerita tentang kehidupan kita.
Dan
tibalah hari dimana aku akan bertemu dengannya di sebuah mall yang cukup
terkenal di Surabaya. Itu adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku &
baginya.
Tak
terasa 1 tahun berlalu dan kita menjadi sedekat ini. Mungkin kita tak bisa
meneruskan hubungan ini sebagai teman biasa. Mungkin perasaan ini akan membawa
kita kedalam suatu hubungan lebih dari sekedar teman.
Harapan
ku telah terwujud. Beberapa hari setelah itu, Dia menyatakan cintanya padaku
dan aku menyambut cinta itu.
Tapi
setelah itu, tak kusangka aku telah menganggap remeh cinta yang telah ia
berikan padaku. Serasa 1 tahun itu tidak cukup bagiku untuk mengenalnya.
Aku
masih ingat dimana ia menuliskan kata-kata “I ;
U” menggunakkan darahnya.
Aku
masih ingat dimana Ia selalu bangun jam 5 pagi untukku hanya untuk mengirimi
diriku sebuah pesan berisi “Good Morning, Sayang”. Padahal aku tahu, Ia sangat
kekurangan tidur karena jadwalnya yang begitu padat di sebabkan oleh: Ia adalah penerus
perusahaan keluarganya.
Aku
masih ingat ditengah-tengah kursus & sekolahnya yang begitu padat, Ia akan
selalu menyempatkan waktunya untuk menemani diriku.
Aku
masih ingat dimana Ia membelai rambutku dengan lembutnya, memelukku dengan
hangat sambil berkata “Aku sayang kamu” dengan nada yang tegas, tetapi mengandung kelembutan dan
cinta.
Aku
masih ingat dia selalu menghiburku disaat aku dalam kondisi terpuruk.
Aku
masih ingat dia menerimaku apa adanya. Padahal, Ia anak orang kaya dan aku
hanyalah anak orang menengah ke bawah.
Aku
masih ingat dia selalu bersikap dewasa pada diriku yang begitu kekanak-kanakan.
Ia
yang selalu baik padaku, tapi aku tak merasakan kebaikan itu. Seakan-akan aku
adalah makhluk yang jahat. Aku selalu membeda-bedakannya dengan lelaki di luar
sana tanpa aku tahu perjuangannya untuk menjadi yang terbaik untuk diriku.
Aku
merasa begitu kurang pada semua yang telah Ia lakukan padaku. Sehingga aku
memutuskan hubungan kami dan berpindah hati pada lelaki lain.
Dan begitu
jahatnya aku, Aku memamerkan pria baruku kepadanya tanpa mengetahui betapa
sakit hatinya ketika aku melakukan itu pada dirinya.
Tetapi…
Ia
tetap bersikap baik pada diriku…
Mungkin
ini karma buatku karena telah melakukan hal itu padanya. Kekasih baru yang
kupuja-puja itu memutuskan hubungannya denganku dan berpindah hati.
Dan
di saat bagian terpurukku itu, Peter bersedia menjadi tempat curhatku walau hatinya
telah aku sakiti. Di dalam hatiku, aku
merasa betapa bodohnya diriku telah meninggalkan pria baik ini demi pria busuk
itu. Peter
membuka tangannya kembali kepadaku dan berkata “Aku masih sayang kamu”. Tentu saja aku akan menerima uluran tangannya
itu, tetapi betapa bodohnya diriku aku membuang kebaikkan Peter.
Tapi
aku tak tahu kenapa Ia masih saja mau kepadaku yang menyakiti hatinya itu
sedemikian rupa dan aku tetap melakukan kesalahan itu untyk ke sekian kalinya…
Dan
tibalah saat di mana kesabaran manusia telah sampai pada batasnya.
Peter
menjauhkan dirinya dari padaku. Tapi aku belum sadar akan hal itu. Setelah
sekian lama aku baru sadar bahwa Peter lah yang terbaik bagi diriku.
Dan..
..semuanya
terlambat.
Ia
telah membenci diriku karena begitu jahat perlakuan ku padanya.
Sebegitunya
Ia membenciku sampai saat aku menelponnya, hanya dengan mendengar suaraku, Ia
langsung memutuskan telefon tersebut.
Aku
selalu megirim pesan padanya, tapi Ia tak mau membalas pesanku.
Mungkin…
Aku
berharap takdir menyatukan kita kembali. Aku di pertemukannya di sebuah mall
dengannya aku begitu senang melihat wajahnya. Tapi, Ia mengetahui adanya diriku
disana. Wajah yang sebelumnya tertawa menjadi penuh dengan kebencian saat
melihat wajahku.
Tetapi
aku membuang harga diriku dan menghampirinya untuk meminta maaf
“Siapa
kamu? Aku tak mengenalmu!” dengan dinginnya tanpa mau melihat mukaku.
Aku
tak kecewa karena ini pantas buatku.
Dan
tiba dimana hari Ia berulang tahun, aku ingin memberikan hadiah kepada dirinya.
Pada saat itu hari itu begitu cerah. Aku menunggu untuk memberikannya hadiah
yang telah aku bungkus ini. Aku menunggu di depan rumahnya, tanpa merasa hujan
itu turun dengan derasnya, tapi aku tetap menunggunya…
Tapi
di luar dugaanku..
Ia
membuang hadiah yang sudah aku buat dengan susah payah di depan mataku.
Ya
aku tau semua yang telah aku lakukan tak akan pernah menghapus kesakitan yang
Ia rasakan pada saat bersamaku . .
Tapi
…
Aku
tetap berharap bisa bersamamu walau itu hanya sebatas teman . .
Mungkin
juga bila temanku tak mengenalkan dirimu padaku semua kesakitan di antara cinta
pertama kita tak akan pernah terjadi ..
Dan
aku tidak akan belajar bagaimana rasa sakit ketika di sakiti, rasa sayang yang
selalu kau berikan padaku, perlakukan baikmu, uluran tanganmu yang masih mau
menerimaku walau aku telah menyakitimu.
Namun,
sekarang aku telah menemukan sesosok pria yang bisa menggantikan dirimu. Tetapi
tetap, dirimu lah yang masih mendapatkan posisi pertama di hatiku.
Terimakasih
atas segalanya..
No comments:
Post a Comment